Lagu Mp3 Tumarima "Tafsir Versi Holidincom"

Awalnya semua kerasa manis. Bukan manis yang lebay, tapi manis yang bikin hati tenang. Lagi di fase deudeuh-deudeuhna, nyaah-nyaahna, fase di mana dunia kayak ngasih lampu hijau terus. 

Ketawa gampang, capek nggak kerasa, dan masa depan rasanya tinggal dilangkahin dikit lagi. Aku pikir, “Oh, ini kali ya rasanya dicintai dengan benar.” 
    

Tapi ternyata perasaan itu rapuh. Kayak cahaya lilin yang tiba-tiba padam ketiup angin. Gelapnya datang cepat, tanpa aba-aba. Satu hari masih saling jaga, besoknya aku sadar kamu sulaya cinta. 

Arah hati kita nggak lagi sejajar. Kamu melangkah ke jalan lain, dan tanpa ragu, kamu midua kasih. Bagi cintamu ke orang lain, sementara aku masih berdiri di tempat yang sama, nunggu kamu balik. 

Rasanya kayak berdiri di tengah ruangan kosong. Nggak jatuh, tapi juga nggak berdiri kokoh. Nangtung ngalanglayung. Hidup jalan, tapi jiwa kayak ketinggalan. 

Aku sayang kamu setengah mati, tapi sayang itu nggak cukup buat bikin kamu bertahan. Dan di titik itu, aku sadar sebesar apa pun cintaku, aku tetap nggak dapet hak buat kamu pilih.

Sakit? Banget. Sampai ada momen di mana pikiran gelap datang pelan-pelan. Hayang dendam. Hayang ngabales. Pengen kamu ngerasain apa yang aku rasain. 

Pengen kamu ngerasain perihnya ditinggal tanpa penjelasan yang bener. Tapi dendam itu capek. Amarah itu berat. Dan aku makin sadar, rasa sakit ini nggak bakal sembuh kalau aku terus nyimpen api di dada. 

Akhirnya aku duduk sendiri, lama. Nanya ke diri sendiri, salahku di mana, kurangku apa. Sampai akhirnya aku nemu satu jawaban paling pahit tapi paling jujur: meureun urang lain jodona. Bukan karena kurang cinta, tapi karena takdir memang nggak nyatuin.

Di situ aku belajar satu hal paling berat dalam hidup: tumarima. Nerima bukan karena ikhlas sepenuhnya, tapi karena capek melawan. 

Nerima bahwa ada hal-hal yang nggak bisa dipaksa, sekeras apa pun usaha kita. Nerima bahwa Allah punya garis cerita sendiri, dan aku cuma tokoh yang harus jalan sesuai alurnya. 

Aku masih inget kamu. Masih kebayang senyum kamu, cara kamu bicara, cara kamu bikin aku percaya kalau cinta itu sederhana. Tapi sekarang aku juga belajar melepaskan. 

Bukan melupakan, tapi berhenti berharap. Luka ini masih ada, kanyeri hate ini masih kerasa, tapi setidaknya aku nggak lagi pura-pura kuat.

Kalau nanti kita ketemu lagi, mungkin cuma sebagai dua orang yang pernah saling sayang. Nggak lebih. Nggak kurang. 

Dan aku berharap, di titik itu, aku udah benar-benar bisa bilang ke diri sendiri: “Aku sudah berusaha. Aku sudah mencintai. Sisanya, aku serahkan ke takdir.”

Karena pada akhirnya, cinta yang nggak kesampaian bukan kegagalan. Kadang, itu cuma tanda kalau ceritanya memang harus berhenti di situ.